Rumah Singgah

Kali ini aku sedang menjalankan misi sosial di salah satu pulau terpencil di Indonesia. Aku dan kawan-kawanku berencana tinggal bersama selama dua bulan kedepan. Kita merencanakan misi sosial untuk membuat warga pulau kecil ini menjadi selayaknya desa-desa lainnya, kita hanya penyumbang ilmu kemakmuran. Disini kita seperti memiliki atmosfir yang berbeda, seperti menginjakkan kaki di bulan nggak ada grafitasinya. Sangat berbeda dengan kota-kota tempat kita tinggal, disini begitu sepi, gelap, menakutkan, tapi penuh kekeluargaan yang sangat hangat. Kita mengorbankan keegoisan kita, jauh dari mereka yang kita sayangi di kota, ayah, ibu, adek, kakak, saudara lainnya. Kita sudah mengambil segala resiko dan komitmen untuk warga desa ini, untuk senyum anak-anak desa ini, desa dalam pulau terpencil ini.

Aku disini nggak sendiri, aku bersama 21 orang kawanku. Kita tinggal dalam satu atap yang kami sebut "Rumah Singgah". Tempat kita beristirahat melepas penat, melepas kerinduan sesaat akan orang-orang yang jauh disana, tempat kita saling berdiskusi, berbagi cerita seru seharian yang kita lalui, tempat kita saling bercanda dan bertengkar bersama. Rumah baru bagi kita yang jauh dari keluarga, demi misi sosial yang tidak pernah kita harap kembaliannya. Kita 21 orang dengan otak pemikiran yang berbeda-beda, memiliki ciri khas berbeda, dari latar belakang yang berbeda, dari ras yang berbeda, dan kita bukan saudara. Tapi kini kita membangun persaudaraan, membangun solidaritas dan kepercayaan bersama, untuk membangun visi dan misi bersama. Disini kita memiliki hidup yang sangat berbeda dengan kota, disini nggak ada listrik yang berlaku selama 24 jam penuh, disini kita nggak selalu makan sayur, junk food, membuka internet saja penuh perjuangan menuju bukit, apalagi hanya sekedar menggunakan telepon pun kita harus bergantian karena pemancar signal disini memerlukan antena tradisional milik warga.

Kita bagaikan manusia yang baru dengan tanggung jawab lebih besar dari biasanya, kita mencoba hal baru tantangan hidup yang lebih seru. Tapi aku selalu ingat pesan ibuku "Selesaikan tugasmu dan pulanglah" hanya itu yang terucap dari ibu sebelum aku berangkat ke pulau ini. Aku membentengi diriku sendiri akan banyak kemungkinan buruk yang akan terjadi dan pasti tidak ingin ibuku dengar dari telinganya mengenai kabar burukku. Ayah yang selalu menelpon saat istirahat hanya berpesan "Disana bukan tempat asalmu. Disana pulau baru yang kau injak, menyatulah dengan alam" dari kejauhan terdengar jelas getar suara ayah yang tertahan dirongga mulutnya. Ayah yang selalu mengingatkanku mengenai keselarasan alam, dia tak pernah absen mengingatkan hal itu agar aku selalu dilindungi dari hal apapun yang dia juga tak ingin mendengarnya seperti yang dilakukan ibuku.

Tantangan baru, pengalaman baru bukan berarti ini menjadi selalu seru dan menyenangkan. Karena masih ada tanggung jawab yang harus kita topang banyak nama baik yang harus di jaga, nama baik yayasan, nama baik kita masing-masing dan nama baik keluarga kita. Hanya semesta yang mempu menolong kita saat ini dan baiknya memang kita harus mempercayakan sepenuhnya pada semesta. Karena disinilah awal kita melepas ego, kesombongan, keangkuhan dan kegilaan duniawi yang selama ini menjadi obsesi kita.

Menaiki perahu nelayan berukuran lebih besar dari sekedar truk yang biasa aku lihat di jalan, perahu yang dilengkapi layarnya dan ruangan bawah yang cukup luas mengangkut koper-koper kami. Kita sempat meragukan perjalanan ini karena bukan hanya koper, bahkan beberapa kwintal bahan makanan kita bawa, belum lagi jumlah kita ber-22 orang, ditambah beberapa awak kapal yang menjemput perjalanan kita. Kita berpikir hal buruk akan menimpa jika meneruskan perjalanan dengan beban muatan kapal yang kurang wajar ini. Tapi sedikit tenang karena para awak kapal menjelaskan perjalanan yang akan kita tempuh dengan kapalnya akan baik-baik saja.

Menyebrangi lautan biru yang berangsur berubah warna tiap saatnya, biru muda, lebih tua, dan semakin pekat warnanya hingga menghitam, hanya doa yang kami ucap hingga kita sampai ke pulau. Sedikit menegangkan karna perahu seakan sedang bermain-main dengan ombak, menari, berlarian, dan terkadang melambat menunggu ombak besar melewatinya. Lumba-lumba yang aku suka terlihat sekilas berlarian menyambut kita semua yang menjerit bahagia.

Bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar