Rumah seakan menjadi dambaan kami saat ini, begitu jelas merindukan rumah. Ayah, Ibu, kakak, adek semua yang mewarnai rumah, kegiatan yang menyebalkan di dalam rumah seakan kami rindukan saat ini. Kerinduan yang mendalam dengan rumah, tapi dari sini justru kita belajar untuk mengenal tanggung jawab dan kedewasaan yang sebenarnya.
Hari ini seakan aku ingin terbangun dan kembali dan pasti ini belum terlambat untuk dilakukan, tapi ada komitmen yang harus aku pertanggung jawabkan nantinya, aaah... pasti akan banyak masalah yang muncul bila aku pulang sekarang. Badanku seakan sudah tak kuat bangun lagi, perasaan sayup-sayup tarian ombak dan perahu masih terasa dikepalaku. Mungkin aku kena mabuk laut, cacing-cacing di perutku juga seakan ikut mabuk dan sekarang cacing-cacing itu berdemo, aku lapar. Haruskah aku masak jam segini? ini malam sekali, meskipun mataku sepertinya sulit untuk membawaku bermimpi. Tapi malam ini begitu gelap dan aku begitu takut, haruskan aku membangunkan temanku hanya untuk menemaniku makan? tapi pasti mereka capek dan ingin istirahat.
"CYAAAAT!!!.." suara mendadak menghampiri kamarku, seperti hewan malam yang sama merasa laparnya sepertiku dan sepertinya aku harus terbiasa dengan suara-suara mereka yang sekarang membuatku kaget dan deg-degan, sekujur tubuhku jadi lemas, perutku yang gaduh sekarang berubah jadi mules nggak karuan ingin ke kamar mandi. Beginikah aku harus menahan ketakutanku sendiri, kebiasaan susah tidurku dan kebiasaan gaduh dengan musik-musik di Hape-pintarku. Sepertinya memang aku harus merubah pola hidupku dari sekarang, seperti rasa lapar di tengah malam ini harus ku rubah sekarang.
Gelap. Waktu menunjukkan pukul 23:00 WIB, yaaa... pulau ini masih memasuki waktu Indonesia bagian barat tapi aku udah nggak di pulau dimana aku biasa tinggal. Dan masalah terbesarku saat ini adalah gelap. Perlahan kelambu jendela kamar aku singkap, pemandangan tepat di depan teras "Rumah Singgah" tapi yang aku lihat hanya pohon mangga besar di halaman rumah dan beberapa pilar-pilar rumah. Remang memang karena pancaran cahaya lampu dari tetangga rumah yang agak jauh dari "Rumah Singgah". Musuhku dari kecil adalah gelap tapi tak tahu kenapa aku harus melawannya karena ini tidak akan mampu menyelamatkanku dari sini, dan aku harus bertahan.
"WHUUUUUUUSSHHH.." Kelambu jendela kamar menyapaku malam ini seakan-akan ingin menarikku untuk melihat luar. Astaga!! jatungku berdegup kencang, seakan ada sesuatu yang membuatku penasaran sekaligus takut. Aku mulai memainkan pikiranku "ah itu angin", "apa itu nyata?". "jangan-jangan hantu disini sedang mengamatiku" tapi logikaku selalu mengalahkan pemikiran burukku "ITU HANYA ANGIN" aku memberanikan diri menengok luar dan sedikit menutup jendela yang sebelumnya terbuka. Batinku membuatku berani dengan berkata "Nggak ada apa-apa kok, cuman angin laut lagi pasang gedhe banget". Disini saat malam sangat panas didalam rumah, tapi dingin sejadinya jika aku keluar karena anginnya sangat kencang dan bahkan mampu mengendalikan kincir listri di desa ini. Yaaaah.. sebelumnya desa ini di fasilitasi kincir angin sebagai daya pembangkit listri karena potensi angin disini cukup kuat, tapi saking kuatnya angin dua sampai 3 buah kincir listri hancur karena angin bahkan sampai patah karena angin. Dan sekarang desa ini menggunakan tenaga cahaya sebagai pembangkit tenaga listriknya, karena disini juga cukup panas jika siang hari. Tapi listrinya pun tak cukup membuat menyala seluruh rumah di Desa ini menyala selama 24 jam penuh. Kita nggak tau apa alasan listrik ini hanya menyala 6 jam tiap harinya dan ini juga menjadi pertanyaan para warga. Jadi dari sini kita akan mencari kebenarannya.
Apakah ini salah kincir angin? salah pembangkit surya? salah warganya yang kurang bijak dalam penggunaannya? atau salah aparat desa? kita belum menemukan jawabannya. Yang sekarang ini kita lakukan adalah menunggu waktu untuk menjawabnya dan kita yang harus menyelidikinya. Karena tujuan kita hanya untuk membuat warga ini sejahtera selayaknya masyarakat pedesaan lain dan anak-anak menjadi tersenyum bahagia.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar